Aopok.com - Namaku Supriyanto, umurku 18 tahun, baru saja lulus SMU tahun ini. Aku anak dengan orangtua tunggal. Ibuku meninggal pada saat aku berusia 11 tahun karena sakit, sedangkan bapak sejak ibu meninggal, kerja sebagai TKI di Korsel. Jadi hanya tinggal aku sendiri yang menempati rumah orangtuaku di desa ini. Aku tidak perlu kuatir kekurangan uang saku, karena setiap bulan bapak mengirimkan uang lebih dari cukup untuk hidup sebulan. Jadi sedikit demi sedikit aku dapat menabung.
Walaupun aku sudah berumur 18 tahun, dan wajahku termasuk ganteng untuk ukuran di desaku, tetapi aku sama sekali belum pernah merasakan apa yang dinamakan berpacaran. Aku memang minder terhadap teman-teman gadisku di sekolah, aku lebih berkonsentrasi pada pelajaranku disekolah daripada berusaha mendekati seorang gadis, lagipula, memang pada saat ini belum ada seorang gadispun yang membuatku tertarik, paling-paling aku hanya berusaha berteman seperti biasanya.
Sebenarnya tepat di depan rumahku tinggal Bulik(bibi,adik ibu/ayah) Tin, waktu aku masih kecil aku dititipkan dengan Bulik Tin, ketika menginjak SMU lah baru aku boleh tinggal sendiri di rumahku. Nama Bulik Tin sebenarnya adalah Prihatin, lengkapnya aku sendiri tidak pernah tau. Bulik Tin adalah adik dari bapak, umurnya sekitar 27 tahunan. Wajah Bulik Tin menurutku cukup ayu, walaupun gak seperti bintang film yang sering muncul di TV, atau penyanyi dangdut yang sering manggung di lapangan pojok sana. Bulik Tin sudah menyandang status janda ketika baru 1 bulan perkawinannya, suaminya, Mas Wito (begitu aku manggilnya) meninggal kecelakaan ketika hendak mengantarkan Bulik ke sekolah SD tempat Bulik mengajar. Bulik Tin sendiri kehilangan pergelangan kaki bagian bawah, diamputasi katanya. Yang aku ngerti kaki Bulik Tin sebatas pergelangan kaki sebelah kanan, diganti dengan kaki palsu. Jadi Bulik Tin kalau jalan, agak pincang karena kaki palsunya itu. Kini sudah hampir 4 tahun sejak kematian suaminya, walaupun begitu Bulik sayang sekali sama aku, aku juga sayang sama Bulikku itu. Bahkan sekarang aku juga lebih sering tidur di rumah Bulikku, menemani di rumahnya. Kadangkala aku membantu Bulik memeriksa pekerjaan rumah atau ulangan murid-muridnya, Bulik senang sekali kalo aku sering begitu. Kadang aku dihadiahi ciuman sayang kalau aku sudah selesai membantu Bulik mengerjakan tugas-tugas ringan di rumahnya.
Suatu hari temanku waktu SMU, Manto, mengajakku dolan(bermain) ke rumahnya, dia anak seorang juragan sapi, paling kaya sedesaku. Aku manut aja ketika dibilangi kalo mau ditunjukan sesuatu yang bagus. Ketika sampai dirumahnya aku di ajak ke kamarnya, lalu nonton film yang menurutku saru. Katanya itu namanya film BF, alias Blue Film. Pemainnya orang barat semua, di film itu mereka kok mau-maunya kentu (kentu=bersetubuh)di rekam sama orang lain. Aku bener-bener baru kali ini liat film macam gituan.
Artikel Terkait
Manukku (manuk=burung/penis) pas nonton film itu jadi ngaceng.(ngaceng=ereksi) Sejak aku pertama kali liat film bf, aku makin sering dolan ke rumahnya Manto, dia punya koleksi kaset bf hampir 1 lemari penuh. Biasanya aku disuruh liat sendiri, kata Manto dia sudah liat semuanya, lalu dia mainan game Playstation di ruang tamu. Di kamar Manto aku bener-bener memperhatikan seluruh adegan yang dimainkan di dalam film itu. Kadang-kadang manukku keluar cairan bening, agak-agak lengket. Kata Manto itu wajar, soalnya aku terangsang liat begituan. Aku ga berani tanya lebih jauh lagi, aku cuman manggut-manggut pura-pura ngerti apa yang dijelaskan ama Manto. Lanjut baca!

0 Response to "Viral Petualangan Supriyanto Anal Sex dan Brutal"
Posting Komentar