Tradingan.com - Cahaya matahari yang menyilaukan menyapu wajahku saat aku melangkahkan kaki keluar dari dalam kapal pesiar. Aku sampai di Bali setelah perjalanan yang melelahkan menggunakan kapal dari Jakarta. Kebetulan seluruh teman-temanku sibuk dengan liburan masing-masing karena kuliah sedang diliburkan, jadi aku juga harus mempunyai liburanku sendiri. Velita pergi ke Paris untuk mengunjungi kakek dan neneknya. Catty berlibur ke Roma bersama keluarganya, dan Tifanny tetap bekerja seperti biasa di Bandung. Tentu saja aku merindukan mereka semua dan tetap berkirim pesan, tapi aku juga harus rileks dan menikmati liburanku di pulau Dewata ini.
Aku menatap ke samping, laut. Air yang jernih, biru, dan berombak dengan pasir-pasir yang memantulkan cahaya mentari yang membuatku harus menyipitkan mata untuk bisa menatap karang penuh warna-warni yang ada di bawah laut juga. Dengan ikan-ikan beragam warna yang berenang dengan pelan, menikmati alam. Namun aku segera tersadar dan menyeret koper hitam-ku.
Dan beberapa langkah setelahnya, di pelabuhan ini, aku melihat sosok yang sudah sangat kukenal. Seorang wanita cantik bertubuh 2 cm lebih tinggi dariku. Dalam balutan pakaian khas Bali, serta topi jerami yang cukup lebar untuk melindungi kepalanya dari sengatan cahaya yang bersuhu tinggi. Walaupun ia mengenakan kacamata hitam, aku masih bisa melihat kilauan mata yang terpancar dari wajahnya yang berseri-seri dalam menyambutku. Bibirnya yang tipis terangkat, membentuk sebuah senyuman yang sangat kurindukan. Dan kurasa senyuman itu juga merupakan luapan kerinduannya padaku.
Aku berlari. Merasakan angin bertiup melewati tubuhku, menerobos di balik kemeja tipis dan celana pendekku, berlari ke arah perempuan itu. Senyumannya semakin melebar, hingga memperlihatkan sederetan giginya yang putih bersih. Ia melepaskan kacamata hitamnya, memperlihatkan bola mata cokelatnya yang memesona dan merentangkan tangannya, bersiap memelukku.
Artikel Terkait
Aku berhenti tepat di depannya, melepas koperku dan memeluknya dengan erat tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ia memelukku dengan begitu erat hingga dadaku terasa sesak, namun aku tersenyum saat ia melepaskan pelukannya dan menatap wajahku. 2 tahun kami tidak bertemu, dan tidak ada yang berubah darinya.
“Ken.”
Terasa sengatan listrik yang menggelora ke seluruh tubuhku saat ia menyebut namaku. Ia mengulurkan tangannya, dan jari-jarinya yang panjang dan lentik mulai menjelajahi wajahku, ia mengelus pipiku dengan lembut. Hal yang sudah tidak pernah kurasakan selama dua tahun kami tidak bertemu. Aku tahu, aku telah banyak berubah sejak terakhir bertemu dengannya. Dulu, aku hanya meringis saat ia mencubit pipiku karena aku harus mendongak terus agar bisa, Lanjut baca!

0 Response to "Viral Anal Sex Ken-Windy, The Sister"
Posting Komentar